Breaking News

Trending Template

Woensdag 03 September 2014

Rekam Jejak Kegagalan Handoko Joko Widodo

Handoko Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta tidak pernah lepas dari pemberitaan di media massa. Sebagian besar media mainstream cenderung memberitakan Jokowi secara positif tanpa menggali lebih dalam fakta terkait sosok yang digadang – gadang sebagai calon terkuat Presiden 2014 menurut sejumlah lembaga survei.
Namun jika kita cermat, ternyata popularitas Jokowi tidak sejalan dengan hasil kerjanya, baik semasa menjabat sebagai Wali Kota Solo maupun sebagai Gubernur DKI Jakarta. Semasa kampanye Pilkada DKI 2012 lalu, Jokowi kerap mengumbar janji manis, bahkan dirinya secara tegas mengaku bahwa tidak akan menjadikan Jakarta sebagai batu loncotan untuk maju Capres 2014.
Agar tidak salah menilai sosok Jokowi, ada baiknya kita memeriksa rekam jejak Jokowi semasa menjabat sebagai Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Hal ini penting supaya kita tidak terjebak pada kebiasaan Jokowi mengumbar janji manis lalu diingkarinya seperti di Solo dan DKI Jakarta. Jangan sampai kelak terulang dan Indonesia akan menjadi negara gagal di tangannya.
Kegagalan Jokowi di Solo:
1. Gagal mengurai kemacetan. Solo hanya memiliki penduduk sekitar 559.318 ribu jiwa, namun sejumlah ruas jalan justru berada dalam level macet.
2. Program relokasi PKL Jokowi berbanding terbalik dengan program revitalisasi pasar trasional. Beberapa pedagang bernasib kian terpuruk akibat omset yang terus merosot. Sebelum relokasi rata – rata pendapatan pedagang sekitar Rp 400 ribu per hari, namun setelah relokasi merosot dan hanya mendapat Rp 50 ribu – Rp 100 ribu per hari.
3. Kemiskinan di Solo meningkat. Berdasarkan data Tim Koordinasi Penanggulan Kemiskinan Daerah Solo, kemiskinan tahun 2009 tercatat sebesar 107 ribu jiwa, tahun 2011 meningkat menjadi 130 ribu jiwa.
4. Jokowi gagal menanggulangi banjir. Awal 2012, banjir meluas dan merendam 1.470 keluarga dengan ketinggian air  1 – 1,5 meter.
5. Jokowi gagal menata pemerintahan kota Solo yang bersih. Data KP2KKN Privinsi Janteng 2010,  menempatkan Solo di urutan ke – empat di Jawa Tengah.  Pemadaman listrik kerap terjadi karena Jokowi menunggak pembayaran pajak penerangan jalan umum sebesar Rp 9 miliar, hal ini menunjukkan ketidakberesan Jokowi memanajemen Pemkot Solo
6. Gagal menjalankan proyek mobil ESEMKA sebagai industri otomotif lokal. Proyek ini nyatanya tidak pernah beroperasi seperti yang diumbar – umbar Jokowi selama ini
7. dll. Informasi selengkapnya dapat dibaca http://pilkadaleaks.blogspot.com/2012/07/siapa-sesungguhnya-joko-widodo.html?spref=tw
Kemampuan Jokowi memainkan isu melalui media massa, mampu menutupi kekurangan dan kegagalannya selama menjabat Wali Kota Solo. Kelihaian Jokowi memainkan sosial media juga mengangkat namanya dan terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Apa yang sudah dilakukan Jokowi pada Jakarta?
1. Jokowi gagal mengatasi macet
2. Jokowi gagal mengatasi banjir dan menghabiskan anggaran puluhan ratusan miliar
3. Jokowi gagal menata pasar tradisional di Jakarta. Sama seperti di Solo, para pedagang mengaku semakin menderita karena omset mereka terus menurus sejak Jokowi menata sejumlah pasar seperti Tanah Abang.
4. Kemiskinan di Jakarta sejak Jokowi menjabat kian parah. Meskipun data BPS menunjukkan ada penurunan sekitar 0,15 persen, nyatanya penduduk DKI menghadapi tekanan biaya hidup yang terus meningkat akibat naiknya harga – harga kebutuhan pokok, sementara pada saat yang bersamaan pendapat mereka begitu – begitu saja.
5. Jokowi belum berhasil melaksanakan program Jakarta Pintar dan Jakarta Sehat. Menyelesaikan hal ini, menurut Jokowi, butuh waktu yang tidak sebentar.
6. Gagal membenahi 100 kampung kumuh dan merenovasi 15 terminal di Jakarta hingga setara hotel bintang seperti janjinya semasa kampanye.
7. Dll, selengkapnya dapat dibaca http://radennuh.org/2014/01/03/inilah-daftar-janji-jokowi-ahok-yang-mereka-ingkari/
Dan dari semua janji manisnya yang gagal ia penuhi, satu janji yang sangat melekat diingatan warga DKI yaitu janjinya untuk tidak menjadikan Jakarta sebagai batu loncatan menuju RI1. Jokowi, seperti katanya dahulu, akan fokus membenahi Jakarta hingga 5 tahun mendatang.
Namun kini, jokowi mengingkari semua perkataanya. Dengan dana ratusan miliar, Jokowi mengerahkan media massa dan sosial media serta gerakan komunitas yang mendukung pencapresannya seolah – olah datang dari masyarakat, sehingga dengan demikian mampu menekan Megawati menetapkannya sebagai Capres dari partai Banteng.
Upaya keras Jokowi untuk mewujudkan ambisinya akan segera terwujud, karena kabar yang beredar bahwa Megawati telah menyerah terhadap tekanan untuk memajukan Jokowi dalam Pilpres tahun ini. Hanya menunggu waktu tepat untuk mendeklarasikannya.
Terlepas dari keberhasilan Jokowi menekan Megawati sehingga memicu perpecahan di internal PDIP dan dirinya menjadi salah satu Capres, kitalah yang seharusnya bijak menentukan pilihan agar tidak jatuh pada orang yang salah. Jokowi terbukti gagal memimpin Solo dan DKI Jakarta, lalu bagaimana mungkin kita bisa mempercayakan Indonesia di tangannya?

Bijak menilai, bijak memilih. Nasib bangsa dan negara ini ada di tangan kita. Salah memilih pemimpin, maka Indonesia hanya akan berakhir sia – sia dalam 5 tahun mendatang.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking

Designed By VungTauZ.Com