Breaking News

Trending Template

Saterdag 15 Februarie 2014

Berfilsafat Tanpa Sabuk Pengaman Oleh : Donny Gahral Adian (Nietzcheolog)



Berfilsafat Tanpa Sabuk Pengaman
Oleh : Donny Gahral Adian (Nietzcheolog)

          Kejatuhan manusia dari taman firdaus adalah kejatuhan ke dalam semesta tanda tanya. Terang sekarang bergantian kesunyian, keasingan dan kengerian. Semuanya sekarang serba remang, abu-abu dan kabur. Sebuah ironi yang menarik. Siti hawa yang memakan buah pengetahuan justru terlempar ke dalam keramang-remangan epistemik yang menggelisahkan. Keremangan yang memunculkan banyak pertanyaan. Apakah kodrat semesta alam raya? mengapa manusia ada? Siapakah dia sesungguhnya? Dimana posisi kosmiknya? Dan apakah tujuan eksistensialnya.
          Amnesia primordial tersebut tidak berlangsung lama. Yang ilahi tak lega untuk tidak memercikkan dirinya dalam sejarah dan menjelma agama. Agama menjawab tuntas semua pertanyaan tersebut. Agama membangun sebuah narasi raksasa tentang kodrat semesta raya termasuk manusia. Lahirnya agama-agama besar menyudahi keberombang-ambingan tersebut. It’s all over now! Manusia boleh merasa aman sekarang.
Di sisi lain, sekelompok orang tidak begiitu saja puas dengan jawaban-jawaban teologis. Bagi mereka keremangan harus disingkap dengan mengaktifkan kerja rasion semaksimal mungkin. Kebenaran tidak didapatkan dengan gratisan. Ia harus dikejar melalui skrutinisasi rasional nan intensif.  Sekelompok orang yang berpikir ini biasa disebut filsuf. Laboratoriumnya adalah tanda–tanya. Segalanya adalh hipotesis. Karenanya, mereka cenderung berseberangan dengan  kelompok yang mengagungkan dogma-dogma kering.
Namun pada gilirannya, para filsuf terjebak untuk memberikan jawaban-jawaban siap saja tentang kodrat, tujuan semesta dan manusia.para filsuf yunani, misalnya meyakini adanya prinsif rasional (logos) yang melandasi gerak-gerik semesta. Prinsif rasional yang hanya bisa dimengerti oleh manusia sebagai makhluk yang kodratnya rasional (animal rationale). Hidup yang sempurna dan berkeutamaan adalah tujuan pokok manusia. Puncak eksistensi yang hanya dicapai apabila manusia bisa mendayagunakan kemampuan rasionalnya. Ini membuktikan bahwa filsuf bukanlah sosok yang berani ambil resiko. Filsufpun ingin bermain aman.
Pencarian kodrat semesta dibalik yang empiris akhirnya mendapat gugatan berat dari filsuf jerman, immanuel Kant. Kant menyentil sejarah filsafat barat dengan membatasi kerja rasio manusia. Kerja rasio terbatas pada fenomena empiris. Diluar itu tidak bisa diketahui melainkan diyakini saja sebagai postulasi moral. Namun, kritik ini belum tuntas. Keterbatasana manusia ala kant adalh keterbatasan yang mengabaikan perbedaan. Seolah semua manusia dijagat dibatasi kategori-kategori epistemik yang sama.
Neitzchelah yang pertama kali menyudahi sejarah absolutisme filsafat barat. Ia dengan gagah berani mengumumkan matinya kebenaran kodrati. Kebenaran yang dikejar-kejar sepanjang sejarah peradaban dipandangnya tak lebih dari gerombolan metafor. Metafor selalu berpersfektif. Pengetahuan manusia tak lebih dari sekadar metafor. Objektivitas pengetahuan selama ini diagungkan ternyata Cuma fiksi belaka. Fiksi guna menyembunyikan  persfektif dan kepentingan sesungguhnya.
Kalau kodrat hanyalah sebentuk metafor, maka tantang neitzche-lah selanjutnya adalah “Beranikah kaulayari samudra ini meski tahu tak satupun pulau disana untuk berlabuh”. Artinya, beranikah manusia hidup dalam suasana remang tanpa pegangan kebenaran. Tanpa saturujukan puntentang kodrta hal ihwal. Beranikah manusia menciptakan kebenarannya sendiri. Sesuatu yang tidak pernah ditunjukkan sejarah. Manusia selalu membangun kuil-kuil kebenaran tampatnya berlindung. Kuil agama, kuil ilmu pengetahuan, dan kuil filsafat.
Filsafat anti kodrati. Itulah nama yang cocok bagi modus berfilsafat Neitzche. Modus berfilsafat yang sangat dibenci kelompok-kelompok pendamba kebenaran. Michel Foucault adalah salah satu penganut berfilsafat tersebut. Filsuf asal francish ini bukan saja mengadopsi gaya berfilsafat Neitzche secara akademis. Ia bahkan menghisupkannya secara eksistensial. Itulah mengapa ia senantiasa menjelajah medan-medan pengucapan baru seksualitas. Sebuah eksperimentasi kehidupan yang berujung pada kematiannya.
Bagi foucaultyang disebut oleh seorang professoramerika sebgai cripto-marxis, hidup adalah seni.hidup adalah penciptaan diri lewat pelampauan terus-menerus. Karenanya, kotak-kotak kategorial yang membungkus rapi eksistensi manusia harus disobek-tembus. Sebelum menyobek, lebih dulu mesti dibuktikan bahwa kotak-kotak yang memasung hidup manusia tersebut tidaklah semutlak yang dibayangkan. Ini bukan kerjaan teoretikal baru. Neitzche pernah melakukan hal yang sama terhadap moralitas. Kategori moralitas kristiani yang dianggap suci, bening dan mutlak dibuktikan sebaliknya. Kategori tersebut muncul pada satu konteks historis tertentu.Konteks historis saat para budak terhina membalik nilai-nilai aristokrat yang dikaguminya menjadi  “ÿang jahat dan terkutuk”. Prinsif geneologi ini yang kemudian harus diadopsi foucault. Prinsif yang menekankan bahwa tiap bentuk kebenaran bisa dilacak secara historis pada institusi dan wacana yang dominan yang melahirkannya. Kehendak untuk tahu adalah nama lain bagi kehendak untuk berkuasa.
Prinsif-prinsif geneologi yang diadopsi foucault guna mengobrak-abrik kategori-kategori yang oleh masyarakat dimutlakkan. Penelitian historis foucault terhadap kegilaan, misalnya. Penelitian tersebut adalah serangan foucault terhadap pemutlakan kegilaan sebagai penyakit mental. Kita cenderung menyebut orang-orang yang tiba-tiba melucuti pakaiannya dimuka umum sebagai “gila”. Seseorang yang harus segera mendapat bantuan profesional. Kegilaan bagi foucault bukan suatu sudah pada kodratnya penyakit. Penelitiannya membuktikan bahwa pada satu masa kegilaan bukan dikonsepsikan sebagai penyakit, malainkan kesalahan moral yang mereduksi manusia ketingkat kebinatangan. Degradasi yang membuat manusia harus dikurung dan diisolasi, bukan disembuhkan. Kategorisasi kegilaan ini bukan kesalahan yang harus dibenahi oleh psikolog modern. Kegilaan, baik sebagai cacat moral maupun penyakit mental, tak lebih dari sekedar konstruksi sosial. Konstruksi berdasarkan prinsif penataan hal-ihwal yang membuat beberapa hal mungkin dan lainnya tidak. Prinsif penataan yang oleh Foucault diberi julukan teknis: Episteme.
Episteme tidak bisa dijamah. Kerjanya sangat halus menguasai pola pikir orang pada satu zaman dan mendepak pola pikir alternatif. Mekanisme kerja episteme bersifat diskursif. Bagaimana sesuatu fenomena dikategorisasi, didefinisikan dan ditindaklanjuti tergantung pada tiga komponen diskursif: disiplin ilmu, institusi, dan tokoh. Kegilaan misalnya saat ini didominasi oleh disiplin psikologi. Disiplin yang didapatkan melalui institusi yang namanya universitas. Dan di universitas jualah mahasiswa berkenalan dengan tokoh-tokoh psikologi seperti freud, Jung, adler dan tokoh lainnya.Kombinasi ketiganya menghasilkan satu mesin kebenaranuntuk berbicara tentang kegilaan. Diluar itu semua, adalah omong kosong yang menyesatkan. Hakim di pengadilan tidak akan memanggil dukun untuk dimintai keterangannya tentang kesehatan mental seorang terdakwah. Hakim pasti ahli psikologi jebolan universitas yang sudah mengunyah banyak jajanan intelektual dari beranekaragam tokoh psikologi.
Pengetahuan selalu bersangkutan dengan kekuasaan. Pertautan yang tidak saling meniadakan, melainkan menguatkan. Berbekal pengetahuan psikologi, seseorang mempunya kekuasaan untuk menghakimi kondisi mental orang lain. Bukan hanya itu, pengetahuan juga memiliki dampak sosial. Pengetahuan bisa mengakibatkan rekonfigurasi sosial. Pendapat ahli bahwa kegilaan adalah penyakit mental menjebloskan para orang gila ke dalam asilum. Pendapat ahli bahwa homoseksual adalah sebuah kelainan seksual melahirkan kebijakan yang melarang pernikahan sesama jenis. Pendapat ahli yang mengatakan bahwa masturbasi pada anak dapat mengakibatkan kebodohan berujung pada pengawasan super ketat yang digelar mulai dari rumah sampai sekolah. Semuanya itu adalah permainan kuasa-pengetahuan yang bertujuan mengahsilkan tubuh-tubuh yang taat. Sebuah permainan yang mematri perilaku badani yang sehat, normal dan baik.
Akhirnya, pertanyaan siapakah manusia, tetap dibiarkan menggantung. Atau bahkan tak usah ditanyakan sama sekali. Buat apa tanya-tanya kalau ternyata manusia sudah wafat seperti dikidungkan Si Foucault. Manusia tak llebih sekedar bentukan wacana dominan yang disokong oleh institusi dan profesional. Sebagai realitas, manusia bukan suatu yang ajek. Ibarat tanah lliat, ia selalu berubah bentuk. Tidak ada satupun yang kodrati dalam diri manusia. Semuanya tak lebih dari sekedar bentukan sosial. Apa yang  kita kira sebagai sebagai kodrat manusia ternyata dibangun oleh episteme zaman yang berpihak pada pengetahuan, wacana dan institusi tertentu.
Namun jangan terlalu kuatir. Kodrat bukan sesuatu yang ditemukan. Ia diciptakan, sebab itu manusia bisa mendobraknya. Karenanya, ikut lah pesan Ban Napi: hiduplah layaknya karya seni. Daripada susah melacak yang namanya kodrat lebih baik ciptakan diri secara baru terus-menerus. Proses yang menyaratkan pelampauan terus-menerus dari segala bentuk kemutlakan

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking

Designed By VungTauZ.Com