Breaking News

Trending Template

Saterdag 15 Februarie 2014

Falsafah Media Kehidupan



Falsafah Media Kehidupan

Pengantar
Kesadaran akan alam merupakan bagian penting yang menghantarkan seseorang dalam suluknya. Selain hal tersebut tidak dapat dinafikan – juga membuat seorang muslim dapat melangkah dengan menyesuaikan realitas medianya. Ada beberapa hal penting, yang dapat menghantarkan pengertian alam akherat – melalui contoh perjalanan manusia dari alam rahim ke alam dunia ini. Kedua alam ini (dunia dan akherat) merupakan pokok kajian disini. Dengan mengambil pelajaran yang telah baku dari ayat-ayat Al-Qur’an serta hadits – Insya Allah tulisan ini dapat memberi manfaat dalam upaya memahami kedua alam tersebut, walau tetap bersifat global dan umum.
Ilustrasi
Seseorang telah menceritakan pengalaman hidupnya didasar laut. Saat itu, menjelang terbenam matahari dengan meminum secangkir kopi panas yang baru dibuatnya didasar laut bebas. Sebuah keindahan tak ternilai, ketika kopi diminum di dasar lautan dengan ikan ikan yang ikut berkeliaran disekelilingnya. Tanpa alat penghirup udara dan dibawah kapal – beserta binatang binatang laut, ia memakan pendukung kopi yang baru dibuatnya di dasar lautan.
Setiap pembaca atau pendengan cerita iini dianggap sebagai lelucon yang tak masuk akal. Pertama, bagaimana dapat seseorang bernapas dengan air dan memasak air di dasar lautan serta minum kopi yang diselubungi oleh air. Seluruhnya tak lebih lelucon yang dibuat-buat. Disebut lelucon karena keadaan dan kehidupan di daratan tidak terdapat rasionalitas cerita seperti ini.
Bila hal ini dapat dibohongkan dan menertawakan – maka banyak hal juga karena diperkirakan seseorang tentang alam dunia dan akherat ini salah – juga menertawakan dan menjadi lelucon besar dalam kehidupan ditengah masyarakat. Imam Ridho as. pernah menyampaikan hal menarik dalam sebuah haditsnya yang dimaksudnya kurang lebih sebagai berikut :
Seseorang datang kepada Allah meminta sesuatu yang tidak diciptakan-Nya. Sahabat bertanya hal itu dapat dilakukan (meminta yang tidak diciptakan) wahai Imam ? beliau menjawab : Ya !!, Ketika seseorang meminta rahah (ketenangan) di dunia ini – sedangkan rasa capai dan letih diciptakan bagi dunia dan penduduknya – sedangkan ketenangan diperuntukkan bagi penduduk akherat."
Dari hadits diatas dapat dimengerti seseorang beribadah atau berbuat maksiat akan tetap mengalami keadaan yang terjadi didunia ini – yaitu menjadi lelah dan capai. Pengertian capai itu muncul karena kerja fissik yang dilakukannya – bukan oleh sebab kebosanan atau lainnya. Secara tidak langsung Imam Ridho as. mengajarkan pentingnya kitan mengenal dua alam dunia dan akherat.
Banyak lagi keuntunga lainnya, dengan pengenalan kita pada akherat mialnya. Seseorang dalam beramal shaleh dapat diibaratkan dengan seseorang yang mengirim barang dagangannya ke alam akherat yang kelak akan menjadi penghias rumahnya dikampung akherat. Apa yang harus kdilakukan oleh seseorang dalam mendapatkan kepastian pengiriman barangnya sampai ke tujuan. Pertama kali dirinya harus mengenal kehidupan akherat yang dengannya dapat mempersiapkan behan bakunya dari dunia. Kedua, memastikan pos-pos pengiriman pada lembaga yang terjamin. Ketiga, meneliti bahan-bahan saat hendak mengirimkannya, Keempat, membayar upah pengiriman tersebut sesuai aturan lembaga pos yang terjamin. Walau hal ini adalah ilustrasi – namun betapa penting hal ini bagi kita yang hendak beramal sholeh. Demi memastikan satu-persatu persoalan ini – kajian tentang dunia dan akherat merupakan pokok persoalan yang penting.
Dunia Adalah Rahim Ruh
Jika diatas contoh berkaitan dengan keuntungan yang dapat memberikan suatu pembanding tentang dunia dan rahim sebagai pengantar contoh terhadap alam akherat.
Seorang ibu yang mengandung dua janin kembar yang tumbuh hingga menjelang kelahirannya. Pada saat sebelum dilahirkan, janin tersebut telah memiliki peralatan hidung – paru-paru dan mulut. Namun keberadaannya dirahim ibunya tidak membuat hidung – paru-paru dan mulutnya berfungsi sebagaimana kehidupan didunia ini. Janin tersebut bernapas dan memakan makanan melalui tali ari yang menghubungkan dirinya dalam kantong rahim ibunya. Hal ini disebabkan keberadaan di dunia ini. Saat salah satunya telah terlahir didunia, janin yang tinggaal menganggap saudaranya telah wafat dan meninggal. Dan jika akan dibandingkan kelluasan alam rahim dengan alam dunia ini luasnya tidak terkirakan. Bila janin itu dapat berpikir dan berikhtiar tentunya cenderung untuk memilih hidup di alam dunia yang jauh lebih luas. Namun potensi janin itu menjadi sempurna dengan tumbuhnya peralatan tubuh yang dipersiapkan dialam rahim tersebut sehingga saat dilahirkan dapat hidup didunia ini.
Demikian juga halnya dengan akherat, jika dalam rahim potensi itu tumbuh tanpa ikhtiar si janin, didunia ini juga terdapat sesuatu yang ditumbuhkan dalam diri manusia melalui ikhtiarnya. Sesuatu itu adalah jiwanya, yang kelak akan ditemuinya dialam akherat. Pada saat manusia telah mencapai kondisi (ajal) yang telah memenuhi persyaratan sunatullah dirinya pergi ke alam yang lebih lluas dari alam dunia ini. Pada saat itu, kita berkata saudara kita telah meninggal dunia. Mereka yang terlahir diakherat dalam bentuk yang prematur juga akan mengalami kesulitan abadi, dan juga bagi mereka yang telah menumbuhkan jiwanya, akan menemukan dirinya demikian siap memasuki alam akheratnya, walau antara rahim dunia ini dapat dijadikan ibrah terhadap upaya memahami alam akherat itu sendiri.
Perbedaan Dunia Dan Akherat
Selain contoh diatas yang mendekatkan pada keadaan alam akherat, banyak juga ayat al-Qur’an yang menjelaskan keadaan alam akherat ini. Dengan dukungan dalil (argumentasi) aqli (rasional) dan nash – perbedaan dunia dan akherat dapat dikategorikan pada empat pokok perbedaan.
Dunia adalah alam yang berproses, bergerak dan gerakannya menunjukkan adanya suatu tujuan dan arah yang senantiasa sama. Tetumbuhan yang tumbuh misalnya, dari lemah menjadi kuat dan pada titik posisi puncak kemudian mengkerut dan lapuk. Semua proses demikian hanya terjadi pada penduduk dunia. Sedangkan akherat berbeda sepenuhnya dengan proses seperti didunia. Di akherat seseorang tidak menjadi tua hal ini dinyatakan rasulullah dengan tidak adanya orang tua di sorga nantinya. Sehingga dapat disimpulkan perbedaan utama antara dunia dan akherat – dunia adalah alam proses, dan bersifat hancur datau fana’, sedangkan akherat bukan alam proses sehingga disebut sebagai alam baqo. Dari pengertian ini seseorang yang mengkhayalkan keadaan akherat dengan sungai mengalir atau kolam susu dan minum arak – tak lebih dari cara berpikir akherat yang salah. Walau hal itu terdapat dalam teks ayat al-Qur’an – yang pada dasarnya al-Qur’an dalam menjelaskannya memberikan perumpamaan dan simbol-simbol. Hal itulah yang menyebabkan banyak kalangan yang salah menilai alam akherat ini dengan menganggaapnya sebagai alam proses.
Perbedaan lain dunia dan akherat ditinjau dari sisi hukum dan aturannya. Dimana hukum didunia ini merupakan pelajaran dari penduduknya. Sedangkan akherat adalah hasil akhir yang tidak ada lagi kesempatan untuk belajar darinya. Karena itu, dunia oleh rasulullah senantiasa disebut sebagai madrasah bagi umat manusia. Mereka yang tekun dalam mengkaji kehidupan ini senantiasa akan menuai hasil diakherat nanti. Kesalahan dan ujian yang menimpa manusia didunia ini tidak mendapatkan hukuman yang final tetapi masih terdapat kesempatan-kesempatan waktu untuk memperbaikinya. Sebaliknya akherat tidak lagi terdapat kesempatan dan ujian lagi. Seluruhnya adalah tanggung jawab dari hasi perbuatan manusia didunia ini. Kesalahan yang dimungkinkan muncul adalah ketika manusia melihat dunia ini adalah kesempatan untuk melampiaskan emosi atau menganggap dunia sebagai tujuan (terdapat dlam pandangan yang menafikan alam akherat). Kemungkinan lainnya, muncul pada mereka yang meyakini Islam Namun salah menilai ujian dan siksa. Dirinya melihat ujian didunia ini sebagai pembalasan Tuhan dibumi terhadap diri seseorang. Yang dengan cara pandang seperti itu seseorang dikategorikan sebagai muslim atau kafir. Bagi muslim, tentunya melihat akibat perbuatan yang berdampak didunia adalah pelajaran yang dengannya Allah menghendaki seorang muslim dapat belajar dari perbuatannya sendiri di dunia. Sebaliknya bagi si kafir dalam bentuk akibat dari perbuatan yang sama tidak akan dipandang sebagai pelajaran, karenanya tidak membuat dirinya taat dan mengerti kehidupan melainkan keluhan semata. Karena itu, akibat sebuah perbuatan didunia akan membuahkan pengertian bagi diri muslim yang ditimpa akibat perbuatan. Disebabkan mereka memandang dunia ini adalah madrasah – sehingga akibat perbuatan adalah teguran yang membuat ingat akan akibatnya yang lebih besar dialam akherat nantinya.
Perbedaan lain antara dunia dan akherat adalah keterikatan pengaruh antar individu dan sosial. Dimana pekerjaan seseorang dapat mempengaruhi secara langsung terhadap sosial masyarakatnya. Demikian sebaliknya. Sehingga dosa seseorang dapat secara langsung berdampak kepada orang lainnya, seperti perbuatan membunuh adakalanya yang dibunuh adalah mereka yang tak berdosa. Perbuatan demikian tidak akan terjadi di akherat. Dimana perbuatan seseorang tidak berkaitan dengan lainnya. Yang demikian menunjukan perbedaan dunia –akherat adalah didunia, manusia terikat oleh perbuatan diri dan masyarakatnya dan di akherat seluruhnya mandiri. Kesalahan menilai dapat saja terjadi – dalam hal ini seseorang telah berbuat kebaikan namun ditimpa musibah – kemudian merasa bahwa Tuhan tidak berlaku adil dan tidak memperhatikannya. Kesalahan kesimpulan demikian kkarena tidak mengerti terhadap alam keterikatan dunia ini. Dirinya lupa bahwa Rsul sekalipun tertimpa musibah yang disebut bala’ akibat dari perbuatan orang kafir Tha’if, sehingga wajah beliau berlumuran darah. Demikian dengan Imam Ali as. atas dosa apa beliau dibunuh – juga pada Imam Husein as. yang dibantai secara kejam dan sadis di padang tandus Karbala’. Seluruhnya menunjukkan dunia memiliki keterkaitan satu dengan lainnya, yang dengan itu – seorang muslim yang mengenai jenis akibat pperbuatan datang dari sikap buruk dirinya atau lingkungannya.
Perbedaan lain dunia akherat adalah didunia bercampur antara mati dan hidup, didunia terdapat benda-benda yang mati dan yang hidup bercampur dan terpisah – sedangkan diakherat seluruhnya hidup. Seperti yang terdapat dalam al-Qur’an bahwa tangan-tangan manusia serta kaki dan anggota tubuh lainnya dapat berbicara. Dalam hadits Syarif dijelaskan api neraka sekalipun memiliki kehendak dan dapat berbicara sebagaimana kita berkehendak dabn berbicara. Yang demikian itu terjadi karena alam akherat sepenuhnya kehidupan sejati, sedangkan alam dunia adalah tempat bercampurnya alam kehidupan dan kematian. Kesalahan dalam menilai hal ini seperti yang disikapkan seseorang akan dapat berargumentasi dihadapan Allah dalam Pengadilan Mahkamah tertinggi nantinya. Dimana saksi-saksi saat itu bukanlah mati melainkan hidup dan mendakwa dimuka Hakim dan tak satupun yang dapat ditutupi darinya.
Manusia Terhadap Dunia dan Akherat
Manusia terhadap dunia dan akherat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu :
Dunia semata
Akherat semata
Akherat alat justifikasi dunia
Dunia jembatan menuju akherat

Dari keempat kelompok ini, manusia pertama adalah manusia yang menilai setiap fenomena kehidupan ini memiliki tujuan akhir yakni didunia itu sendiri. Kapitalisme menunjukkan hal ini, karena itu, cara apapun dalam upaya mendapatkan hasil didunia ini ditempuh demi tujuan-tujuan yang bersifat material – kekuasaan ataupun kepuasan emosionalnya. Kelompok ini tidak meyakini akherat – apalagi berpengetahuan tentang akherat. Kehidupan ini tidak lain dari sebuah kebetulan dan sama seperti binatang melata lainnya. Mereka melihat kekuasaan adalah segala-galanya dan berupaya mencapainya. Dalam hal ini, agama akan dilihatnya sebagai alat kekuasaan untuk memperkokoh dan memperteguh kekuasaan itu sendiri.
Pandangan seperti ini dapat saja terjadi pada seorang muslim, dimana keputusan yang dibuatnya semata hanya mempertimbangkan persoalan material dan menafikan nilai-nilai atau norma keagamaan itu sendiri. Pikirannya bila melihat sesuatu baik itu adalah kawan atau saudaranya – yang tampak adalah aset ekonomis yang dengan itu dia bersedia mengorbankan kemuliaan dan bahkan kemanusiaan. Namun bila mereka dikatakan kafir niscaya menolak, mereka berkata dengan lisannya bukan yang sebenarnya.
Kelompok kedua adalah kelompok yang sangat tidak realistis yaitu mereka yang menganggap akherat ialah tujuan utama yang akhirnya melupakan dunia. Kelompok yang dapat diibaratkan seseorang yang merasa sampai tujuan – sementara dilihat duduk distasiun pemberangkatan yang sedang tidur mendengkur. Khayal dia yang menganggap sampai, namun pada saat tersadarkan –ia baru menyadari bahwa dirinya tidak berbuat sesuatu terhadap apa yang ditujunya. Sebagaimana sabda Imam Ali as.
 "Manusia itu tidur, ketika mati baru bangun"
Itulah gambaran yang tepat untuk kedua kelompok manusia diatas, yang satu terlena oleh keindahan duniawi yang menyilaukan matanya sehingga tak mengenal tujuan akhir dan yang kedua sangat berkhayal telah sampai pada tujuan tanpa usaha dibumi ini. Praktek ini terjadi sesuai dengan isyarat yang disampaikan oleh Rasulullah saww:
" Aku takutkan pada kalian dua hal yaitu menuruti hawa nafsu dan memanjangkan angan angan".
Dari hadits ini jelas bahwa keduanya adalah dua kelompok yang tidak reaalisti terhadap kehidupan ini.
Kelompok ketiga, adalah mereka yang mengenal kehidupan akherat – namun pengetahuan nya ini tidak mencerap dalam dirinya – sehingga tampaklah dalam dirinya upaya memperalat diri sendiri melalui ilmunya. Memutarbalikan pengertian dibalik fakta, sehingga berada dalam kegelapan dan ketidakjelasan persoalan, untuk mengambil keuntungan duniawi. Dan yang disimpangsiurkan ialah hal-hal yang bersifat suci serta mulia. Kesengajaannya untuk membuat akherat sebagai alat kepentingan dunianya. Kepada mereka Allah SWT berfirman:
 "Dan kehendak kami untuk mengangkat mereka dengan ilmunya namun mereka lebih condong pada bumi dan mengikuti hawa nafsunya – maka perumpamaan mereka seperti anjing yang apabila kalian beri peringatan ataupun biarkan akan menjulurkan lidahnya. Itulah perumpamaan kaum yang mengingkari ayat-ayat Kami, maka kisahkan kisah seperti ini agar mereka mau memikirkan".
(QS: 7: 175 – 176)
Kelompok keempat aadalah mereka yang menganggap akherat adalah jembatan yang keberadaannya sebagai alat untuk mencapai tujuan di akherat. Dan untuk itu pula Allah mempersiapkan manusia di bumi ini, sebbagaimana persiapan fisik janin yang diperuntukkan di dunia, maka jiwa manusia diperuntukkan dialam akherat melalui jembatan pendidikan (madrasah) yang bernama dunia. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :
 "Dan berlomba-lomballah dalam mengejar kampung akherat tetapi jangan lupa urusan dunia".
Yang demikian karena dunia juga penting dalam pencapaian kesempurnaan di alam yang lebih sempurna yakni akherat.
Doa – Tawasul – Usaha dan Tawakal
Dari keempat pandangan diatas akan memiliki dampak penerapan yang tersirat dalam doanya. Kelompok pertama akan berdoa kepada Allah meminta kehidupan duia ini dengan materi-materi dan sarana-sarana semata, bahkan terkadang doa tidak dianggap penting – yang terpenting adalah usaha dan meyakini usaha dialah yang akan membuat berhasil – dan Allah sedikitpun tidak memberi pertolongan padanya, dan itu juga pemikiran dia tentang Tuhannya. Tawasul (perantara) bagi dia bukan orang-orang suci, tetapi jabatan dan kekuasaan yang dapat mendatangkan sarana dan keuangan. Tawakal dipandang sebagai kemampuan akhir orang yang lemah, sekedar untuk menerima kenyataan yang tak ada hubungannya dengan Allah SWT.
Kelompok kedua, dalam doa-doa-nya biasanya tampak dengan kekaguman pada pribadi-pribadi suci yang tak menemukan bangunan ketauladanan. Menganggap keberhasilannya dengan doa dalam penertian sempit, sementara tidak tampak pada dirinya usaha yang serius dalam pencapaian harapannya. Yerkadang meminta sesuatu yang tidak realistis dan bertolak belakang dengan kenyataan kehidupan dunia ini. Demikian dalam tawasul – pada tahapnya akan melihat dirinya suci, dengan tidak melakukan kontak sosial ataupun berhubungan sex (tidak menikah). Karena pengertian-pengertian inilah tampak lusuh dirinya dan tidak mempedulikan lahiriahnya (penampilannya), bahkan merasa perlu menghancurkan seluruh potensi fisiknya yang dengan sendirinya usaha itu tidak menduduki proporsisebagaimana lazimnya. Dan menganggap sikap mereka sepenuhnya sebagai sikap tawakal kepada Allah SWT semata.
Kelompok ketiga, adalah kelompok yang secara lahiriah ditampakkan dalam kekhusu’an doa-doa dihadapan orang banyak, dan tidak dengan tujuan tulus dihadapan Allah SWT. Demikian tawasul yang dilakukannya, bila tawasul digunakan untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Oleh mereka digunakan untuk menarik perhatian agar memperoleh posisi penting ditengah masyarakatnya. Sikap demikian tampak dengan perubahan disaat sendiri dan disaat bersama masyarakat. Sedang usaha yang dikejarnya dengan pertimbangan keuntungan tanpa memperdulikan lagi benar dan salah. Hukum-hukum dan syare’at agama akan diikutinya demi tujuan-tujuan pribadi ditengah khalayak lainnya. Demikian pula dengan tawakal, pada dasarnya praktek jiwanya tanpa sedikitpun memiliki karakter agung ini, namun senantiasa ditampakkannya seakan dialah orang yang paling bertawakal pada Allah SWT. Disaat sarana dunia mengelilinginya, dialah yang berkata sebab doa dan tawakal yang senantiasa dia lakukan, namun praktek dan perilakunya sama sekali tidak menunjukan hal ini.
Kelompok keempat adalah mereka yang memandang doa mereka sebagaimana Imam al-Husein as. mengajarkan :
 "Tuhanku bagaimana aku berdoa sementara aku adalah hamba-Mu, Namun karena Engkau menyerukan untuk berdoa dan Engkau pula yang menjanjikan terkabulnya".
Yaitu mereka yang melihat apapun pekerjaan yang dilakukannya tidak membuat kelegaan bagi Allah SWT. Dan perbuatan berdoa (menyeru atau memohon) apapun terpandang kesalahan bagi kesadaran seorang budak dihadapan Tuhannya. Tetapi alasan yang membuat dilakukannya doa adalah karena perintah. Doa dipandang sebagai perintah maulanya. Karena itu doa mereka tidak ada kaitannya dengan keinginan mencapai mencapai banyak sarana duniawi, tetapi justru kehendak pertolongan dan kelangsungan doa yang dapat terus menghubungkan dirinya dengan maulanya. Kerenanya doa dipandang sebagai ruh yang senantiasa mengikuti jasadnya – yaitu usaha sungguh-sungguh di dunia ini. Dengan melihat realitas sebagai jembatan untuk mencapai suatu tujuan. Demikian pula perintah Allah dalam diri seorang hamba untuk memuliakan walinya dan juga halnya pada hasil yang akan diperolehnya di dunia dan pada kalangan irfani juga perolehan akherat. Ketidak terikatan ini, karena dirinya melihat amalan perbuatan baiknyamerupakan akibat yang dirinya dan pertolongan Allah adalah sebab-sebabnya. Karena itu tidak memandang indah pada amal baiknya sendiri disebabkan wujud sebab lebih utama dari akibatnya dan dalam pikirannya ituklah maulanya Rabbul Alamin.
Kematian
Terdapat beberapa pendekatan dalam memberi contoh keadaan seetelah mati. Seperti bila mata melihat seseorang yang terjebak oleh api yang kenmudian membakar tubuhnya. Teriakan rasa sakit dapat menggambarkan betapa pedihnya derita yang ditimpa mereka yang terbakar. Sekonyong-konyong teriakan itu terhenti dan tidak terdengar lagi. Walau dapat dipastikan masih dalam keadaan bernapas, bekas luka bakar yang ada pada tubuhnya menggambarkan keadaan derita yang saat tidak tersadarkan hilang dari rasa sakit, yang disebut hilang ingatan (kesadaran). Jika didunia ini tidak diberikan proses seseorang kehilangan kesadarannya betapa lama derita yang akan mengenai tubuh yang terbakar. Niscaya tidak terdengar lagi berhentinya jeritan tersebut. Sementara kematian adalah masuknya manusia pada kesadaran puncak Dimana derita tidak akan terhenti dan terus berlangsung dialam barzakh. Sehingga yang disebut dengan sakaratul maut adalah kesadaran baru yang berbeda sepenuhnya dengan perkiraan sebelumnya dan mengundang derita. Bagi manusia yang dalam hidupnya tidak pernah pentingnya studi agama, akan melihat kenyataan ini disaat kematiannya. Imam Ali bersaabda :
 "Manusia itu tidur, ketika mati baru bangun"
Dari ini, dapat dimengerti bahwa kehidupan dunia adalah pelajaran yang sangat dibutuhkan guna mendekatkan persepsi manusia dengan realitas dunia dan akherat. Melalui al-Qur’an dan para Imam Ma’shum yang mendekatkan pikiran kita pada alam dunia dan akherat yang akan membangun tatanan sosial masyarakat di bumi menuju nilai-nilai tinggi dari jiwa kemanusiaan itu sendiri.
Kehidupan Sejati
Banyak kalangan menganggap kehhidupan akherat adalah kehidupan yang jauh.Sedangkan al-Qur’an menggambarkan akherat sedemikian dekatnya. Jarak antara perbedaan pemikiran inilah yang kemudian menjadi bahan untuk mengkaji kehidupan sejati. Ketika alam akherat itu dipandang jauh – artinya ma’lumat (pengetahuan) yang dimilikinya menyimpulkan hal itu, maka yang akan timbul adalah kejenuhan dalam mencari jalan akherat. Namun bila ma’lumat media kehidupan akherat itu dekat, niscaya kehidupan sejati itupun akan realistis. Dalam pada itu, dengan melihat ayat-ayat yang mencirikan penduduk ahli sorga yang senantiasa menunggu saudaranya yang akan tiba kemudian dengan penuh harap, merupakan tanda kehidupan ini juga. Persaudaraan muslim yang satu dengan musklaim yang lainnya mengikuti ciri-ciri ini didunia. Sebaliknya ahli neraka bila datang mereka yang menjadi penduduk baru neraka mereka saling menuduh – melaknat dan menyalahkan, yang demikian juga menunjukkan ciri ahli neraka didunia ini. Melalui media umat Islam dapat membangun sistem kehidupan surgawi yang dari skala kecil adalah keluarga dan kemudian pada masyarakat Islami. Tentu hal ini mendorong perjuangan jiwa manusia yang akan dilanjutkan dengan materi tentang motivasi.




Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking

Designed By VungTauZ.Com