Breaking News

Trending Template

Saterdag 15 Februarie 2014

Surat Untuk Raisa ( Alam Mitologis, Kreativitas dan Estetika yang Menyejarah ) Oleh: Riadi Ngasiran



Surat Untuk Raisa
( Alam Mitologis, Kreativitas dan Estetika yang Menyejarah )
Oleh: Riadi Ngasiran[1]

Raisa, yang manis,
Kalau aku tulis surat ini, kau pun tahu sesungguhnya kau berhak tahu sebagian obesesiku. Ketika kau baca surat ini, tentu kau akan mengenang kembali masa-masa kanakmu ketika setiap sore kau mengantarkanku di sudut pintu keluar dari gang buntu. Tetapi, itu tak jadi soal. Sebab, tak ada yang paling menyakitkan dalam hal hidup kecuali buntunya kreativitas. Karena itu, aku ingin banyak bertutur lewat baris-baris kalimat dalam surat ini.

Meski ini tak akan memberikan pencerahan dalam pikiranmu tapi, sebagaimana obsesiku, paling tidak akan menjadikan pintu kesadaran baru meski sebelumnya kau sudah tahu. Aku ingin berkisah tentang dua pelukis yang, di antara keduanya, mempunyai pengalaman hidup dan perjalanan kreativitas yang saling bertolak-belakang.

Sebut ia pelukis kita. Kita menyaksikan saat-saat bahagia pelukis kita, yang hidup bersama istri tercintanya, di sebuah bilik kecil di pantai. Tapi, sudahlah enaknya aku pinjam saja kisah Iwan Simatupang dalam Ziarah-nya: Pelan-pelan ia menuntun suaminya ke dalam bilik. Di sana ia menggumul suaminya, menimbun dan menenggelamkannya dalam pelukan-pelukan dan ciuman-ciuman yang membara dipanggang berahi.

Kebahagiaan pelukis kita dan istrinya, dapat menarik perhatian orang-orang di seluruh negeri. Tentang pelukis dan sanggarnya di pantai, dengan istrinya yang sangat dicintainya, akhirnya terbetik juga ke kota. Kemudian ke seluruh negeri. Gubuk itu lalu beroleh kunjungan yang makin ramai, terutama dari gadis-gadis, pelajar-pelajar sekolah menengah yang tertarik pada sastra dan budaya. Maka, ketika ketenaran sudah mengantarkannya ke dalam kesuksesan, pelukis kita kemudian hidup di kota. Mereka tinggal di sebuah hotel di lantai tinggi. Mereka betul-betul menikmati hidupnya. Dan pada suatu saat kemudian, si istri meninggal dunia.

Fatal bagi pelukis kita, dalam kondisi kehilangan itulah ia tak lagi bisa berkarya. Yang lebih tragis, pelukis kita hanya bisa mengapur tembok-tembok di kuburan, tempat jenazah istrinya itu dikuburkan. Harapan hidup pun terasa luntur. Pernah suatu ketika, pelukis kita berputus-asa. Pelukis kita bermaksud bunuh diri dengan jalan melompat dari jendela hotel:

“Ah, aspal...bumi dari segala resah dan risau modern. Tempat bertemu dan berkumpulnya segala arah, di mana untuk selanjutnya putusan-putusan penting tentang umat manusia masa datang di ambil”.

Secara eksplisit kita tahu, bahwa aspal menggambarkan “bumi dari segala resah dan risau modern” – tempat seseorang harus memilih arah yang akan ditujunya dan harus mengambil keputusan, dengan segala risiko yang harus dihadapinya.

Pelukis kedua yang hendak kuceritakan, sebut ia dengan Tokoh Kita. Tokoh kita seorang guru menggambar di sebuah sekolah menengah pertama. Tapi, ia tak ingin terkungkung dalam rutinitas mengajar, yang hanya berhadapan dengan anak-anak. Ia merasa bertanggung jawab dengan memberikan pergaulan pada proses pembelajaran. Kadang, di antara teman-temannya, ia hanya dipahami sebagai pemalas dan kerjanya hanya jagongan di sebuah sanggar kesenian.

Bisakah kau pahami, bahwa ia juga seorang penyair. Tokoh kita, menulis baris-baris puisi. Tentang dirinya sendiri, sebagai “Guru Menggambar”, ia berututur:
anak-anak tak pernah mengenal gunung
gurunya menyuruh gambar seperti milik mama
sambil menanti gajian setiap bulan.

Tokoh kita hidup dengan dua istri. Di antara kedua istrinya, ia memang pahlawan, bagi anak-anaknya. Khususnya, pada istri pertamanya yang tak bisa membuahkan keturunan tapi harus menanggung kebutuhan hidup mereka. Waktu berlajan, anak-anak tirinya sudah mulai besar, bahkan di antaranya sudah memberikan cucu. Maka istri pertama Tokoh kita ini, tanpa disadari menderita kanker payudara dan baru diketahui ketika sudah sangat parah. Tak bisa lagi diobati, meski segala ikhtiar agar bisa bertahan hidup dilakukan oleh Tokoh kita. Tapi, maut pun tetap menjemput pada saatnya.

Maka, Tokoh kita ditinggal mati istri pertamanya. Kesedihan tak bisa begitu saja dihilangkan, ketika orang-orang terkasih satu-persatu meninggalkan kita. Begitulah, Tokoh kita terus saja bersedih hingga 40 hari kematian istri pertamanya itu. Tapi, justru dalam banyak hal ia menemukan kembali orang-orang yang selama ini menganggapnya arogan. Di tengah suasana pedih, Tokoh kita justru makin meninggi tingkat frekuensi dalam berkreativitas. Dan sejumlah karya lukisan sudah dihasilkan; ia akhirnya hendak berpameran ke Ibu Kota, bahkan sudah menyiapkan sebuah buku yang merekam sebagian besar pikiran yang ditulis ketika ia didampingi istri pertamanya itu.

Ia tidak seperti pelukis pertama. Tokoh kita adalah Saiful Hadjar, pelukis tinggal di Surabaya, memang banyak berpikiran nakal. Coba bayangkan, suatu ketika ia pernah membayangkan adanya suatu “Peristiwa”. Tokoh kita menulis:
ada anak Adam meloncat
dari hotel lantai tertinggi
tidak mati.
Ini sebuah sikap yang hendak menolak kondrat, betapa pun sudah lazim bahwa kematian akan menjemput seseorang yang meloncat dari atas ketinggian. Tokoh kita selalu ingin bereksperimen dengan seseorang sebagai bagian bergulatan hidup, sebagai bagian dari proses kreatifnya.

Raisa yang baik,
Dalam hal kreativitas, seorang seniman bisa terkungkung pada alam mitologis sebagaimana yang terjadi pada orang-orang masa lalu. Bagi seorang seniman, lewat karya-karyanya, adakah mampu menaklukkan kungkungan itu sehingga menjadi kian kreatif atau menjadi makin jumud. Hal itu tergantung bagaimana kita menyikapinya: adakah daya cerap kita berobsesi atau sekadar menangkap wajah alam semesta ini apa adanya. Belakangan, memang ada juga ikhtiar dari sekelompok masyarakat untuk terus menghidupkan mitos-mitos dalam sebuah komunitas etnis tertentu.

Di masyarakat Jawa, mitos bahkan terlanjur menjadi bagian penting dalam hidup dan pola pikir masyarakat. Belakangan, di suku Bugis yang diliputi mitos I La Galigo, menjadi pembicaran penting dalam forum telaah dan diskusi di Barru, Sulawesi Selatan, April 2002. Mitos tentang kerajaan Luwu Kuno, berpangaruh dalam wujud rupa dan nampak jelas dalam gaya arsitektur masyarakat di sana. Juga di masyarakat suku-suku yang lain di Indonesia.

Demikian pula ada suku Asmat di Irian Jaya, mitos berkembang dan nampak jelas pada seni ukir mereka. Motif-motif ukiran dapat menerangkan filsafat manusia-manusia Asmat. Motif-motif itu merupakan binatang yang hidup dan buah-buahan seperti belalang sembah (walang kadung) dan manusia. Bila diperhatikan, ada motif yang domninan, dalam ukiran Suku Asmat, yaitu motif binatang yang memakan buah. Simbolik “makan buah” digunakan mereka untuk menerangkan posisi manusia dalam makro dan mikro kosmos. Dalam telaah J Boelaars tentang Filsafat Manusia Orang Irian: anak dalam kandungan ibu makan dari ibu. Demikian pula manusia dalam kandungan alam semesta dalam kandungan masyarakat, makan dari alam dan dari masyarakat. Bahkan, ada perkataan: suami-istri dalam persetubuhannya makan buah kemaluan dari pasangannya. Dalam perang, tombak makan buah (badan musuh dan buah tengkoraknya) dibawa pulang ke rumah.

Kalau ditilik dari sini, sebenarnya pola berpikir yang ada dalam masyarakat pun masih diliputi mitos-mitos, yang hingga kini belum juga hilang. Seperti adanya isu “culik anak” yang belakangan berkembang sebagai tumbal pembangunan jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) tak bisa dihilangkan begitu saja dari alam pikir masyarakat. Ternyata, sejak dulu kita belum beranjak dari kungkungan alam mitologis seperti itu. Coba kita lihat catatan Sutan Sjahrir ketika diasingkan di Neira (Banda) di masa perjuangan melawan penjajahan Belanda, dalam tahun 1937 ia mencatat beredarnya “tukang culik” ialah orang-orang yang mengayau kepala orang untuk kepentingan gubernemen. Sjahrir pun heran ketika ia menyaksikan ketakutan “gawat” justru diucapkan orang-orang Kristen-Inlander yang baik dan “setia”, yang bercita-cita mau jadi serdadu pada kompeni.

Sebagaimana yang ada di masyarakat kita tentang mitos-mitos para pembunuh yang berkeliaran, yang mencari tumbah untuk rencana-rencana besar, seperti pembangunan jembatan Suramadu itu. Itulah yang sulit kita hindari, mitos hidup di alam pikiran kita.

Tetapi, sejauhmana sebuah mitos bisa berpengaruh pada karya kreatif? Mitos-mitos yang menyelimuti itu, bisa menjadi daya dorong untuk mengungkapkan bahasa visual dalam seni rupa. Di masyarakat Osing di Banyuwangi, berkembang mitos tentang wujud seorang nenek tua yang selalu hadir pada mereka yang congkak atau mencemoohkan eksistensi mitos itu. Wajah seorang nenek tua, dengan payudara yang lunglai sehingga kadang menampakkannya seperti selendang yang bisa diselempangkan di atas pundak. Kalau seorang pelukis kreatif menangkap mitos ini, akan terwujud bahasa visual dengan deformasi yang jelas dan punya akar dalam pikiran pelukisnya. Tetapi, soal deformasi ini kadang ada yang ahistoris: dengan tiba-tiba seorang pelukis menghadirkan figur-figur asing deformatif tapi hasil dari reproduksi yang pernah dihasilkan pelukis tekenal. Inilah yang agaknya mulai menggejala menjadi penyakit yang menjumudkan kreativitasnya sendiri.

Kita bisa menyaksikan, ketika figur-figur deformasi ala Heri Dono atau Edie Hara mulai mendapat perhatian, seketika ada pelukis yang mengikuti bentuk-bentuk itu. Yang menggelikan, pengkopian itu dilakukan tanpa adanya kesadaran kreativitas yang menyejarah. Mereka tidak tahu, Heri Dono melakukan hal itu karena dorongan mitos yang berkembang ketika ia pernah bergaul di kalangan masyarakat di lereng Gunung Merapi. Demikian misalnya ketika ia mengangkat Pohon Beringin dan Buaya Putih dalam sebuah pameran seni rupa.

Raisa yang manis,
Alam pikiran tidak bisa dilepaskan dari pengaruh mitologis atau filsafat yang pernah dipelajarinya. Filsafat pun mempengaruhi bidang-bidang lain dari ilmu pengetahuan. Saling keterpengaruhan dan persinggungan inilah, sesungguhnya yang bisa menjadikan hadirnya seseorang lebih kreatif.

Barangkali, Karl R Popper tak pernah menduga, bahwa epistemologi atawa teori pengetahuan (cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian-pengandaiannya serta secara umum hal dapat diadalkannya penegasan baha orang memiliki pengetahuan) tentang problem solving ternyata bisa diterapkan dalam bidang-bidang yang cukup luas. Juga dalam bidang seni, selain di bidang matematika atau logika.

Penerapan metode “problem solving” dalam bidang seni telah ditunjukkan oleh Sir Ernst Gombrich dalam bukunya Art and Illusion. Di situ, sejarah seni rupa diterapkan dalam istilah Popperian sebagai “modifikasi penciptaan citra setahap demi setahap atas konvensi-konvensi tradisional berkat tekanan penuturan-penuturan baru”. Sehubungan dengan Art and Illusion, Gombrich sendiri dalam salah satu artikelnya pernah menulis bahwa metodologi Popper yang tidak induktivis, melainkan Darwinian, mengilhami Gombrich untuk mencari teori baru mengenai sejarah seni rupa.

Barangkali, kau tak pernah tahu banyak tentang kehadiran Soedjatmoko dalam perjalanan kehidupan bangsa Indonesia. Dalam pemikiran Soedjatmoko pun, terkandung pemahaman sebagaimana kesadaran penerapan metode Popper. Yakni, ketika kesadaran sejarah dilihat dalam pertentangan dengan kesadaran ahistoris: sikap hidup yang menganggap sebab-sebab kejadian tidak harus dicari dalam dunia ini. Tindakan manusia tidak dinilai dalam hasil praktisnya, melainkan hanya sebagai sarana untuk menguji dan menggembleng jiwa. Tindakan manusia bukan saja tidak mempunyai kemampuan untuk memperbaiki hidupnya, melainkan tidak mungkin mempengaruhinya. Kehidupan manusia ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang tak terlawankan, dan tindakan manusia – perorangan maupun bersama – hanya merupakan pelaksanaan “kemauan” kekuatan tersebut. Dengan ringkas, apa yang oleh Soedjatmoko dianggap pandangan ahistoris tak berbeda dari pandangan yang mengakui determinisme sejarah.

Kesadaran sejarah, sebaliknya adalah kesadaran bahwa sejarah adalah sejarah manusia. Makna sejarah dan kekuatan sejarah adalah hasil pikiran, keputusan dan tindakan manusia, yang diakumulasikan dari waktu ke waktu. Hidup dan nasib manusia pada dasarnya tergantung kepada apa yang dilakukannya sendiri, yaitu pada kemampuannya untuk memilih dan mengolah kemungkinan yang terdapat di dunia ini. Keberhasilan dan kegagalannya dalam hidup tidak ada hubungannya dengan kekuatan-kekuatan di luar dunia ini. Malah, menurut Soedjatmoko, campur tangan Tuhan pun – dalam pandangan historis – hanya dilihat sebagai salah satu dari faktor-faktor lainnya, yang bersama-sama memunculkan suatu peristiwa dalam sejarah. Sebagaimana ditunjukkan Ignas Kleden, “kesadaran sejarah adalah perlawanan manusia terhadap determinisme” untuk merebut kembali kebebasan manusia dalam menentukan tujuan dan jalan hidupnya dan menegakkan otonomi dirinya dalam berhadapan dengan kekuatan-kekuatan luar.

Di sinilah, seniman berada pada kesadaran bahwa dirinya harus mengukirkan sesuatu yang sebelumnya tak ada, sebagai kreator yang hadir dalam percaturan kebudayaan. Kesadaran akan sejarah, sesungguhnya manusia tidak begitu saja ditundukkan alam atau mengadakan tautan harmoni dengan kehidupan, tetapi memberi corak pada kehidupan itu sendiri. Ketika seseorang begitu gandrungnya dengan harmoni itu sesugguhnya ia berada pada fase mitologis: karya seni rupa mencerminkan ketergantungan manusia sepenuhnya pada alam semesta.

Kebudayaan sebagai sebuah proses, karenanya sesuai pandangan van Peursen, sebagai sesuatu yang dinamis dan bukan sesuatu yang kaku atau statis. Sebagaimana dipahami olehnya, terdapat suatu model kebudayaan bertahap tiga: tahap mitis, bilamana manusia masih terbenam di tengah-tengah dunia sekitarnya; tahap ontologis, bilamana manusia mengambil jarak terhadap alam raya dan terhadap dirinya sendiri, dalam karya seni rupa mencerminkan hubungan antarmanusia dalam rangka menghadapi semesta; dan tahap fungsional, bila manusia mulai menyadari relasi-relasi lalu mendekati tema-tema tradisional (alam, Tuhan, sesama manusia dan identitas sendiri) dengan cara baru. Pada fase fungsional, karya seni rupa mengungkapkan betapa setiap kepentingan dan kehendak manusia memberdayakan ungkapan (ekspresi)nya untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti tujuan simbolis, spiritual, material dan kontekstual. Yang menarik adalah ketiga tahap ini tidaklah hadir secara hierarkis, misalnya yang satu lebih tinggi daripada yang lain, tetapi masing-masing mengandung unsur-unsur tahap lainnya.

Saya hendak mengungkapkan, sejauh ini terdapat fase mitologis yang membikin kita jumud dalam memahami kebudayaan. Dalam kitabnya, Art and Social Life, Plekanov telah menandai konteks historis dalam estetisme dengan pernyataannya bahwa “kepercayaan akan seni untuk seni muncul ketika seniman tidak lagi sejalan dengan lingkungan sosialnya”. Di sinilah hadir semacam proses pengasingan.

Raisa yang baik,
Seniman dengan karyanya adalah seorang teroris yang selalu mengusik, meneror menjadi kesadaran baru. Mengusik atau penghadiran daya teror sesungguhnya menjadi ukuran keberhasilan seorang seniman. Dalam bentuk bahasa rupa, sesugguhnya akan kita ketahui: apakah ia seorang kreator atau seorang tukang gambar. Ketika alam diwujudkan di atas kanvas, adakah ia mampu mengusik kesadaran lewat karyanya? Aku tidak menolak seorang pelukis yang menghadirkan bunga di kanvasnya. Tetapi, adakah bunga itu meneror kesadaran penikmatnya, menjadi ukuran keberhasilannya itu. Misalnya, bunga yang tertembus carang berduri. Hadirnya sebuah obsesi, adalah kesadaran yang seharusnya tersirat dalam setiap karya seorang seniman.

Sebuah obsesi, adalah suasana dimana digambarkan penyair Charles Baudelaire sebagai:”Kubenci kau, Lautan! gedebar-gedeburmu. Di dalamnya jiwaku kembali menemukan itu tawa pahit. Lelaki yang kalah, kuyup airmata dan nista, Kudengar semua dalam tawa gelagak laut”. Obsesi bisa terwujud sebagaimana hal yang tak lazim di mata umum: seperti bagaimana menyenangkannya suasana malam tanpa bintang-gemintang. Obsesi akan coba dicari dalam kekosongan, kegelapan dan ketelanjangan. Dan kelam sendiri ialah kanvas, tempat hidup – berhambur ribuan dari mata seorang seniman – dalam istilah Baudelaire, “insan-insan yang gaib dengan pandangan akrab”.

Ada hal yang menarik pada Baudelaire, ialah sikap pandangannya terhadap dunia realitas yang ia lihat. Ternyata, alam ini bukan semata-mata alam, tetapi “suatu hutan perlambang”, yang harus disibak maknanya. Alam adalah semacam alegori mistik, sejenis perangsang bagi imajinasi. Tak heran di sini, karya seni (puisi atau pun lukisan) memasuki bidang mistik dan metafisik, yang di dalamnya kita berkenalan dengan metode irasional dan kemabukan. Karya seni, lebih banyak mengungkapkan jiwa daripada perasaan, sebab itu segera kita merasakan kedalamannya. Rasa tragis manusia dikembangkan ke tingkat yang setinggi-tingginya.


Raisa yang baik,
Maafkan! Aku hanya bercerita tentang kehidupan orang-orang di sekitar kreativitas. Betapa pun, obsesi seseorang menjadi ukuran yang bisa diwujudkan sehingga menjadi manusia kreatif. Tanpa itu, agaknya kesadaran akan manusia utama nyaris hilang dan menjadi manusia umumnya yang tak hendak menolak kelaziman. Alias jalan di rel yang umum dilakukan banyak orang.

Dari sikap yang menolak arus umum, niscaya akan hadir personalitas. Tak ada kebanggaan menjadi manusia kreatif, selain pencapaiannya menghargai kebebasan secara personal. Di situlah letak kebesaran Pencipta, yang dimanifestasikan lewat manusia kreatif.

Surabaya, 02 Juni 2002
Salamku,
Riadi Ngasiran

galeri esai: gelar karya esai cybersastra
Dimuat hari Minggu, Juni 23, 2002





[1] Penulis adalah esais kebudayaan, Sekretaris Dewan Kesenian Surabaya dan aktivis Bengkel Muda Surabaya.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking

Designed By VungTauZ.Com